1. LATAR BELAKANG
Karya seni adalah sebuah wujud inderawi yang membangkitkan pengalaman perasaan tertentu pada seseorang. Pengalaman perasaan ini disebut pengalaman seni. Dalam dunia seni, pengalaman seni merupakan syarat pokok ‘lahirnya’ sebuah karya seni. Sebuah karya seni diciptakan dengan orientasi keluar, artinya ditujukan pada orang lain dan bukan kedalam diri seniman itu sendiri. Sebuah karya yang diciptakan oleh seorang seniman baru bisa benar-benar menjadi ‘karya seni’ kalau ada penanggap yang mampu memperoleh pengalaman seni dari karya tersebut. Salah satu syarat terjadinya pengalaman seni terhadap sebuah benda seni adalah kesamaan konteks nilai seni antara seniman (dan karya seninya) dengan penanggap seni atau publik seni. Dengan demikian faktor relasi antara objek seni dengan subjek penanggap amat menentukan munculnya nilai-nilai seni.
Seni Patung sebagai salah satu cabang seni rupa telah hadir jauh sebelum manusia mengenal peradaban modern seperti sekarang. Di zaman itu patung dihadirkan sebagai alat ritual dan dianggap sebagai benda keramat serta disucikan. Sekarang patung telah mengalami perubahan, baik dari segi fungsi, material dan perwujudan bentuk. Patung tidak lagi mencerminkan simbol komunal melainkan bergeser sebagai medium aspirasi pribadi si pematung.
Patung adalah jenis karya seni dalam wujud tiga dimensi. Dalam era industri dan teknologi yang semakin canggih sekarang ini, karya-karya seni patung hadir dan ikut memberikan interpretasinya atas dampak era tersebut. Para pematung tidak hanya sekedar mengekspresikan manifestasi alam yang indah seperti apa adanya kedalam karya, akan tetapi juga mengekspresikannya dari hasil simplifikasi alam dengan hanya menangkap hakikat dari obyek, sehingga memunculkan karya-karya dalam wujud abstrak, dengan berbagai ‘nilai-nilai’ yang diungkapkan lewat ‘tanda-tanda’ visualnya.
Seni patung modern dapat kita lihat pada karya-karya pematung terkenal di dunia, seperti; Auguste Rodin (pelopor seni patung modern), Degas (pematung Impresionisti), Mattise, Picasso, Henry Moore, atau yang berasal dari Indonesia, seperti; Rita Widagdo, G.Sidartha, Arby Samah, Nyoman Nuarta dan banyak lagi pematung modern lainnya. Cara memahami karya-karya mereka tentunya dengan cara penghayatan terhadap tanda-tanda visual yang ada dalam karya dimana tanda yang digunakan mencakup suatu representasi dan interpretasi, suatu denotatum dan suatu interprant.
Seni Patung sebagai salah satu cabang seni rupa telah hadir jauh sebelum manusia mengenal peradaban modern seperti sekarang. Di zaman itu patung dihadirkan sebagai alat ritual dan dianggap sebagai benda keramat serta disucikan. Sekarang patung telah mengalami perubahan, baik dari segi fungsi, material dan perwujudan bentuk. Patung tidak lagi mencerminkan simbol komunal melainkan bergeser sebagai medium aspirasi pribadi si pematung.
Patung adalah jenis karya seni dalam wujud tiga dimensi. Dalam era industri dan teknologi yang semakin canggih sekarang ini, karya-karya seni patung hadir dan ikut memberikan interpretasinya atas dampak era tersebut. Para pematung tidak hanya sekedar mengekspresikan manifestasi alam yang indah seperti apa adanya kedalam karya, akan tetapi juga mengekspresikannya dari hasil simplifikasi alam dengan hanya menangkap hakikat dari obyek, sehingga memunculkan karya-karya dalam wujud abstrak, dengan berbagai ‘nilai-nilai’ yang diungkapkan lewat ‘tanda-tanda’ visualnya.
Seni patung modern dapat kita lihat pada karya-karya pematung terkenal di dunia, seperti; Auguste Rodin (pelopor seni patung modern), Degas (pematung Impresionisti), Mattise, Picasso, Henry Moore, atau yang berasal dari Indonesia, seperti; Rita Widagdo, G.Sidartha, Arby Samah, Nyoman Nuarta dan banyak lagi pematung modern lainnya. Cara memahami karya-karya mereka tentunya dengan cara penghayatan terhadap tanda-tanda visual yang ada dalam karya dimana tanda yang digunakan mencakup suatu representasi dan interpretasi, suatu denotatum dan suatu interprant.
2. TEMA
- Seni Rupa
3. III. SUB TEMA
- Seni Patung
4. MATERI-MATERI YANG AKAN DIMUAT DI BLOG
- Pengertian seni rupa
- Pengertian seni patung
- Perbedaan patung, arca, monumen, seni, bangunan, seni rupa terapan dan seni pakai
- Seni patung modern
- Seni patung di Asia
- Seni patung di Eropa
- Seni Patung di Indonesia
- Kegunaan patung
- Tujuan patung
- Macam-macam patung di dunia
- Lima pahatan patung paling terkenal di dunia
- Pematung Indonesia
- Interpretasi Karya Seni Patung Modern (beberapa karya Pematung Indonesia)
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
1. Pengertian Seni Rupa
Seni rupa adalah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan. Kesan ini diciptakan dengan mengolah konsep titik, garis, bidang, bentuk, volume, warna, tekstur, dan pencahayaan dengan acuan estetika.
Seni rupa dilihat dari segi fungsinya dibedakan antara seni rupa murni dan seni rupa terapan, proses penciptaan seni rupa murni lebih menitik beratkan pada ekspresi jiwa semata misalnya lukisan, sedangkan seni rupa terapan proses pembuatannya memiliki tujuan dan fungsi tertentu misalnya seni kriya. Sedangkan, jika ditinjau dari segi wujud dan bentuknya, seni rupa terbagi 2 yaitu seni rupa 2 dimensi yang hanya memiliki panjang dan lebar saja dan seni rupa 3 dimensi yang memiliki panjang lebar serta ruang.
Secara kasar terjemahan seni rupa di dalam Bahasa Inggris adalah fine art. Namun sesuai perkembangan dunia seni modern, istilah fine art menjadi lebih spesifik kepada pengertian seni rupa murni untuk kemudian menggabungkannya dengan desain dan kriya ke dalam bahasan visual arts.
Seni Rupa adalah salah satu bagian kesenian yang penerapannya berbentuk dua atau tiga dimensi karena memiliki panjang dan lebar, serta volume. Seni rupa merupakan ungkapan gagasan dan perasaan manusia yang diwujudkan melalui pengolahan media dan penataan elemen serta prinsip-prinsip desain.
Seni rupa adalah seni yang cara pengungkapannya diwujudkan dalam bentuk rupa, yang meliputi unsur garis, warna, bidang, tekstur, gelap terang, dan titik. Seni rupa merupakan realisasi dari sebuah imajinasi yang tanpa batas dan tidak ada batasan dalam sebuah karya seni. Sehingga dalam berkarya seni tidak akan kehabisan ide dan imajinasi.
Seni rupa dilihat dari segi fungsinya dibedakan antara seni rupa murni dan seni rupa terapan, proses penciptaan seni rupa murni lebih menitik beratkan pada ekspresi jiwa semata misalnya lukisan, sedangkan seni rupa terapan proses pembuatannya memiliki tujuan dan fungsi tertentu misalnya seni kriya. Sedangkan, jika ditinjau dari segi wujud dan bentuknya, seni rupa terbagi 2 yaitu seni rupa 2 dimensi yang hanya memiliki panjang dan lebar saja dan seni rupa 3 dimensi yang memiliki panjang lebar serta ruang.
Secara kasar terjemahan seni rupa di dalam Bahasa Inggris adalah fine art. Namun sesuai perkembangan dunia seni modern, istilah fine art menjadi lebih spesifik kepada pengertian seni rupa murni untuk kemudian menggabungkannya dengan desain dan kriya ke dalam bahasan visual arts.
Seni Rupa adalah salah satu bagian kesenian yang penerapannya berbentuk dua atau tiga dimensi karena memiliki panjang dan lebar, serta volume. Seni rupa merupakan ungkapan gagasan dan perasaan manusia yang diwujudkan melalui pengolahan media dan penataan elemen serta prinsip-prinsip desain.
Seni rupa adalah seni yang cara pengungkapannya diwujudkan dalam bentuk rupa, yang meliputi unsur garis, warna, bidang, tekstur, gelap terang, dan titik. Seni rupa merupakan realisasi dari sebuah imajinasi yang tanpa batas dan tidak ada batasan dalam sebuah karya seni. Sehingga dalam berkarya seni tidak akan kehabisan ide dan imajinasi.
Seni rupa adalah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan. Kesan ini diciptakan dengan mengolah konsep garis, bidang, bentuk, volume, warna, tekstur, dan pencahayaan dengan acuan estetika.
Seni rupa dibedakan ke dalam tiga kategori, yaitu seni rupa murni atau seni murni, kriya, dan desain. Seni rupa murni mengacu kepada karya-karya yang hanya untuk tujuan pemuasan eksresi pribadi, sementara kriya dan desain lebih menitikberatkan fungsi dan kemudahan produksi.
Secara kasar terjemahan seni rupa di dalam Bahasa Inggris adalah fine art. Namun sesuai perkembangan dunia seni modern, istilah fine art menjadi lebih spesifik kepada pengertian seni rupa murni untuk kemudian menggabungkannya dengan desain dan kriya ke dalam bahasan visual arts
Secara sederhana, seni rupa adalah ungkapan ide atau perasaan yang estetis dan bermakna dari pembuatnya yang diwujudkan melalui media rupa yang bisa ditangka dan dirasakan dengan rabaan. Perwujuda ini merupakan hasil pengolahan konsep titik, garis, bidang, bentuk, warna, tekstur, dan gelap terang yang ditata dengan prinsip-prinsip tertentu.
Berdasarkan dimensinya, karya seni rupa dibagi dua, yaitu karya seni rupa dua dimensi yang mempunyai dua ukuran dan karya seni rupa tiga dimensi yang mempunyai tiga ukuran atau memiliki ruang.
Seni rupa dibedakan ke dalam tiga kategori, yaitu seni rupa murni atau seni murni, kriya, dan desain. Seni rupa murni mengacu kepada karya-karya yang hanya untuk tujuan pemuasan eksresi pribadi, sementara kriya dan desain lebih menitikberatkan fungsi dan kemudahan produksi.
Secara kasar terjemahan seni rupa di dalam Bahasa Inggris adalah fine art. Namun sesuai perkembangan dunia seni modern, istilah fine art menjadi lebih spesifik kepada pengertian seni rupa murni untuk kemudian menggabungkannya dengan desain dan kriya ke dalam bahasan visual arts
Secara sederhana, seni rupa adalah ungkapan ide atau perasaan yang estetis dan bermakna dari pembuatnya yang diwujudkan melalui media rupa yang bisa ditangka dan dirasakan dengan rabaan. Perwujuda ini merupakan hasil pengolahan konsep titik, garis, bidang, bentuk, warna, tekstur, dan gelap terang yang ditata dengan prinsip-prinsip tertentu.
Berdasarkan dimensinya, karya seni rupa dibagi dua, yaitu karya seni rupa dua dimensi yang mempunyai dua ukuran dan karya seni rupa tiga dimensi yang mempunyai tiga ukuran atau memiliki ruang.
2. Pengertian Seni Patung
Seni Patung sebagai salah satu cabang seni rupa telah hadir jauh sebelum manusia mengenal peradaban modern seperti sekarang. Di zaman itu patung dihadirkan sebagai alat ritual dan dianggap sebagai benda keramat serta disucikan. Sekarang patung telah mengalami perubahan, baik dari segi fungsi, material dan perwujudan bentuk. Patung tidak lagi mencerminkan simbol komunal melainkan bergeser sebagai medium aspirasi pribadi si pematung.
Salah satu contoh dari seni patung sebagai berikut:
Salah satu contoh dari seni patung sebagai berikut:
Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park
Merupakan sebuah taman wisata di Unggasan Jimbaran Bali dengan objek wisata Patung GWK (Garuda Wisnu Kencana). Patung GWK ini adalah patung replika Dewa Wisnu yang menunggangi kendaraan bernama Garuda setinggi 12 m, karya pematung terkenal Bali, I Nyoman Nuarta. Area Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana berada di ketinggian 146 meter di atas permukaan tanah atau 263 meter di atas permukaan laut.
Patung ini diproyeksikan untuk mengikat tata ruang dengan jarak pandang sampai dengan 20 km sehingga dapat terlihat dari Kuta, Sanur, Nusa Dua hingga Tanah Lot. Patung Garuda Wisnu Kencana ini merupakan simbol dari misi penyelamatan lingkungan dan dunia. Patung ini terbuat dari campuran tembaga dan baja seberat 4.000 ton, dengan tinggi 75 meter dan lebar 60 meter. Jika pembangunannya selesai, patung ini akan menjadi patung terbesar di dunia dan mengalahkan Patung Liberty
Patung adalah jenis karya seni dalam wujud tiga dimensi. Dalam era industri dan teknologi yang semakin canggih sekarang ini, karya-karya seni patung hadir dan ikut memberikan interpretasinya atas dampak era tersebut. Para pematung tidak hanya sekedar mengekspresikan manifestasi alam yang indah seperti apa adanya kedalam karya, akan tetapi juga mengekspresikannya dari hasil simplifikasi alam dengan hanya menangkap hakikat dari obyek, sehingga memunculkan karya-karya dalam wujud abstrak, dengan berbagai ‘nilai-nilai’ yang diungkapkan lewat ‘tanda-tanda’ visualnya.
Seni patung modern dapat kita lihat pada karya-karya pematung terkenal di dunia, seperti; Auguste Rodin (pelopor seni patung modern), Degas (pematung Impresionisti), Mattise, Picasso, Henry Moore, atau yang berasal dari Indonesia, seperti; Rita Widagdo, G.Sidartha, Arby Samah, Nyoman Nuarta dan banyak lagi pematung modern lainnya. Cara memahami karya-karya mereka tentunya dengan cara penghayatan terhadap tanda-tanda visual yang ada dalam karya dimana tanda yang digunakan mencakup suatu representasi dan interpretasi, suatu denotatum dan suatu interprant.
Merupakan sebuah taman wisata di Unggasan Jimbaran Bali dengan objek wisata Patung GWK (Garuda Wisnu Kencana). Patung GWK ini adalah patung replika Dewa Wisnu yang menunggangi kendaraan bernama Garuda setinggi 12 m, karya pematung terkenal Bali, I Nyoman Nuarta. Area Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana berada di ketinggian 146 meter di atas permukaan tanah atau 263 meter di atas permukaan laut.
Patung ini diproyeksikan untuk mengikat tata ruang dengan jarak pandang sampai dengan 20 km sehingga dapat terlihat dari Kuta, Sanur, Nusa Dua hingga Tanah Lot. Patung Garuda Wisnu Kencana ini merupakan simbol dari misi penyelamatan lingkungan dan dunia. Patung ini terbuat dari campuran tembaga dan baja seberat 4.000 ton, dengan tinggi 75 meter dan lebar 60 meter. Jika pembangunannya selesai, patung ini akan menjadi patung terbesar di dunia dan mengalahkan Patung Liberty
Patung adalah jenis karya seni dalam wujud tiga dimensi. Dalam era industri dan teknologi yang semakin canggih sekarang ini, karya-karya seni patung hadir dan ikut memberikan interpretasinya atas dampak era tersebut. Para pematung tidak hanya sekedar mengekspresikan manifestasi alam yang indah seperti apa adanya kedalam karya, akan tetapi juga mengekspresikannya dari hasil simplifikasi alam dengan hanya menangkap hakikat dari obyek, sehingga memunculkan karya-karya dalam wujud abstrak, dengan berbagai ‘nilai-nilai’ yang diungkapkan lewat ‘tanda-tanda’ visualnya.
Seni patung modern dapat kita lihat pada karya-karya pematung terkenal di dunia, seperti; Auguste Rodin (pelopor seni patung modern), Degas (pematung Impresionisti), Mattise, Picasso, Henry Moore, atau yang berasal dari Indonesia, seperti; Rita Widagdo, G.Sidartha, Arby Samah, Nyoman Nuarta dan banyak lagi pematung modern lainnya. Cara memahami karya-karya mereka tentunya dengan cara penghayatan terhadap tanda-tanda visual yang ada dalam karya dimana tanda yang digunakan mencakup suatu representasi dan interpretasi, suatu denotatum dan suatu interprant.
3. Perbedaan patung, arca, monumen, seni, bangunan, seni rupa terapan dan seni pakai
- Patung adalah hasil seni yang dimaksudkan sebagai sebuah keindahan.
- Arca adalah patung yang dibuat dengan tujuan utama sebagai media keagamaan, yaitu sarana dalam memuja tuhan atau dewa-dewinya
- Monumen adalah jenis bangunan yang dibuat untuk memperingati seseorang atau peristiwa yang dianggap penting oleh suatu kelompok sosial sebagai bagian dari peringatan kejadian pada masa lalu
- Seni bangunan adalah segala hasil perwujudan manusia dalam bentuk bangunan, yang mengandung keutuhan/ kesatuan dengan agama (ritual) dan kehidupan budaya masyarakat.
- Seni rupa terapan (applied art) adalah karya seni rupa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang mana mengandung nilai fungsi tertentu di samping nilai seni yang dimilikinya.
- Seni pakai itu adalah karya seni yang bisa berguna bagi kehidupan selain sebagai penghias saja. contoh : kursi ukir , meja ukir, dll.
4. Seni patung modern
Dalam perkembangan seni rupa modern, abstrakisme yang menjadi salah satu alur perkembangannya yang utama, sebenarnya bermula pada patung-patung Pablo Picasso yang mengadaptasi bentuk-bentuk patung primitif Afrika. Seni patung modern menurut Herberd Read diawali oleh Auguste Rodin (1840-1971). Loncatan yang berarti terjadi pada Picasso, terutama pada karya awalnya “Kepala Wanita” yang bercorak kubistis dan juga pada Henry Matisse dengan karya-karyanya yang bercorak arabeska, seperti dalam karya “Madeleine I” (1901). Sifat-sifat karya patung mereka tersebut sudah jauh dari sekedar meniru alam (mimesis). Dalam sejarah seni rupa modern, patung-patung Picasso yang memperlihatkan deformasi sangat jauh ini dicatat mempengaruhi kubisme dalam perkembangan seni lukis yang kemudian disebut-sebut sebagai tonggak penting perkembangan abstrakisme, sedangkan seni patung yang berperan dalam melahirkan abstrakisme ini tidak pernah disebut-sebat sebagai perintis.
Sederet nama pematung modern (berawalnya dari Eropa), adalah Auguste Rodin, Pablo Picasso, Henry Matisse, Paul Gauguin, Constantin Brancusi, Jean Arp, Naum Gabo dan Pevsner, Henry Moore. Selanjutnya oleh tokoh-tokoh Kinetic Sculpture seperti; Len Lye, Lin Emery, Ernest Trova, dan lainnya. Menurut Paul Klee karya-karya mereka bukanlah sekedar perwujudan bentuk meniru alam atau segala fenomena yang kasat mata, melainkan lebih banyak menghasilkan sesuatu dari dalam (dari dunia subyek) menjadi tampak oleh orang lain. Karena yang terungkap adalah dunia subyektif yang sering sukar terkontrol oleh pengalaman orang lain, maka tidaklah mustahil terlalu banyak ‘selubung’ yang menghambat terjadinya komunikasi. Pada gerakan Constructivisme yang dipelopori Naum Gabo dan sejumlah pematung lainnya, terdapat gejala yang mencoba mengeksploitir bentuk dan gerak.
Dasawarsa 1970 merupakan masa ‘pemberontakan’ dan ‘gerakan’ dalam seni rupa modern Indonesia, tak terkecuali didalamnya usaha-usaha untuk mempersoalkan perkembangan seni patung. Para seniman muncul dengan gejala baru dimana seniman memungut benda keseharian dan benda temuan seperti benda-benda mainan, boneka, mobil-mobilan, sendal bekas, kaleng, daun pisang, dan sebagainya, kemudian dimaklumat sebagai ‘benda estetik’ dan sah untuk ditransformasikan sebagai seni.
Perkembangan seni patung di Indonesia yang tumbuh terutama di Bandung, Yogyakarta, Jakarta dan beberapa kota lainnya, menunjukkan perkembangan yang berbeda dibandingkan dengan pertumbuhan awal ditahun 1950-an. Pertumbuhan awal menunjukkan corak-corak representasional, yang ditandai dengan munculnya kecenderungan patung figuratif seperti patung potret diri atau sosok manusia tertentu yang dipatungkan. Lahirnya gerakan-gerakan seni yang dilakukan para seniman muda tidak saja melabrak kemapanan estetik, akan tetapi juga sikap dematerialisasi (pembebasan material). Seni patung tidak lagi di pahami sebagai seni masif yang menggunakan bahan khusus (kayu, batu, resin, bronze, dan lainnya) yang diletakkan di atas sebuah base, akan tetapi muncul dengan sejumlah kecenderungan estetika yang beraneka ragam.
Tanggal 5 Juni 1973 merupakan hari bersejarah bagi para pematung kontemporer Indonesia, karena pada tanggal tersebut untuk pertamakali diadakan pameran patung modern Indonesia di Taman Ismail Mazuki Jakarta. Hadirnya patung kontemporer sangat mengejutkan publik, dikarenakan kurangnya informasi mereka tentang seni patung modern dunia, khususnya Eropa dan Amerika. Ciri utama dari patung kontemporer ialah bahasa bentuknya tidak lagi bersifat regional, akan tetapi universal. Referensi sosialnya tidak ada sama sekali tetapi hal tersebut sudah didukung oleh falsafah mereka masing-masing yang tidak bisa diterangkan secara obyektif untuk semua orang. Karya-karya yang muncul bergerak kearah abstraksionisme ataupun semi abstrak, deformatif, serta mengekploitir bentuk dan gerak.
Sederet nama pematung modern (berawalnya dari Eropa), adalah Auguste Rodin, Pablo Picasso, Henry Matisse, Paul Gauguin, Constantin Brancusi, Jean Arp, Naum Gabo dan Pevsner, Henry Moore. Selanjutnya oleh tokoh-tokoh Kinetic Sculpture seperti; Len Lye, Lin Emery, Ernest Trova, dan lainnya. Menurut Paul Klee karya-karya mereka bukanlah sekedar perwujudan bentuk meniru alam atau segala fenomena yang kasat mata, melainkan lebih banyak menghasilkan sesuatu dari dalam (dari dunia subyek) menjadi tampak oleh orang lain. Karena yang terungkap adalah dunia subyektif yang sering sukar terkontrol oleh pengalaman orang lain, maka tidaklah mustahil terlalu banyak ‘selubung’ yang menghambat terjadinya komunikasi. Pada gerakan Constructivisme yang dipelopori Naum Gabo dan sejumlah pematung lainnya, terdapat gejala yang mencoba mengeksploitir bentuk dan gerak.
Dasawarsa 1970 merupakan masa ‘pemberontakan’ dan ‘gerakan’ dalam seni rupa modern Indonesia, tak terkecuali didalamnya usaha-usaha untuk mempersoalkan perkembangan seni patung. Para seniman muncul dengan gejala baru dimana seniman memungut benda keseharian dan benda temuan seperti benda-benda mainan, boneka, mobil-mobilan, sendal bekas, kaleng, daun pisang, dan sebagainya, kemudian dimaklumat sebagai ‘benda estetik’ dan sah untuk ditransformasikan sebagai seni.
Perkembangan seni patung di Indonesia yang tumbuh terutama di Bandung, Yogyakarta, Jakarta dan beberapa kota lainnya, menunjukkan perkembangan yang berbeda dibandingkan dengan pertumbuhan awal ditahun 1950-an. Pertumbuhan awal menunjukkan corak-corak representasional, yang ditandai dengan munculnya kecenderungan patung figuratif seperti patung potret diri atau sosok manusia tertentu yang dipatungkan. Lahirnya gerakan-gerakan seni yang dilakukan para seniman muda tidak saja melabrak kemapanan estetik, akan tetapi juga sikap dematerialisasi (pembebasan material). Seni patung tidak lagi di pahami sebagai seni masif yang menggunakan bahan khusus (kayu, batu, resin, bronze, dan lainnya) yang diletakkan di atas sebuah base, akan tetapi muncul dengan sejumlah kecenderungan estetika yang beraneka ragam.
Tanggal 5 Juni 1973 merupakan hari bersejarah bagi para pematung kontemporer Indonesia, karena pada tanggal tersebut untuk pertamakali diadakan pameran patung modern Indonesia di Taman Ismail Mazuki Jakarta. Hadirnya patung kontemporer sangat mengejutkan publik, dikarenakan kurangnya informasi mereka tentang seni patung modern dunia, khususnya Eropa dan Amerika. Ciri utama dari patung kontemporer ialah bahasa bentuknya tidak lagi bersifat regional, akan tetapi universal. Referensi sosialnya tidak ada sama sekali tetapi hal tersebut sudah didukung oleh falsafah mereka masing-masing yang tidak bisa diterangkan secara obyektif untuk semua orang. Karya-karya yang muncul bergerak kearah abstraksionisme ataupun semi abstrak, deformatif, serta mengekploitir bentuk dan gerak.
5. Seni Patung di Asia
Berbagai macam jenis patung terdapat di banyak wilayah yang berbeda di Asia, biasanya dipengaruhi oleh agama Hindu dan Buddha. Sejumlah besar patung Hindu di Kamboja dijaga kelestariannya di Angkor, akan tetapi penjarahan terorganisir yang terjadi berdampak besar pada banyak situs peninggalan di negara itu. Lihat juga Angkor Wat. Di Thailand, kebanyakan patung dikhususkan pada bentuk Buddha. Di Indonesia, patung-patung yang dipengaruhi agama Hindu banyak ditemui di situs Candi Prambanan dan berbagai tempat di pulau Bali. Sedangkan pengaruh agama Buddha ditemui di situs Candi Borobudur.
Di India, karya patung pertama kali ditemukan di peradaban Lembah Indus (3300-1700) SM. Ini adalah salah satu contoh awal karya patung di dunia. Kemudian, setelah Hinduisme, Buddhisme dan Jainisme berkembang lebih jauh, India menciptakan patung-patung tembaga serta pahatan batu dengan tingkat kerumitan yang besar, seperti yang terdapat pada hiasan-hiasan kuil Hindu, Jain dan Buddha.
Artifak-artifak yang ditemukan di Republik Rakyat Tiongkok berasal dari sekitar tahun 10.000 SM. Kebanyakan karya patung Tiongkok yang dipajang di museum berasal dari beberapa periode sejarah, Dinasti Zhou (1066-221 SM) menghasilkan bermacam-macam jenis bejana perunggu cetak dengan hiasan yang rumit. Dinasti Qin (221-206 SM) yang terkenal dengan patung barisan tentara yang dibuat dari terracota. Dinasti Han (206 SM - 220AD) dengan patung-patung figur yang mengesankan kekuatan. Patung Buddha pertama ditemui pada periode Tiga Kerajaan (abad ketiga). Yang dianggap sebagai zaman keemasan Tiongkok adalah periode Dinasti Tang, pada saat perang saudara, patung-patung figur dekoratif dibuat dalam jumlah banyak dan diekspor untuk dana peperangan. Kemudian setelah akhir Dinasti Ming (akhir abad 17) hampir tidak ada patung yang dikoleksi museum, lebih banyak berupa perhiasan, batu mulia, atau gerabah--dan pada abad 20 yang gegap gempita sama sekali tidak ada karya yang dikenali sebagai karya patung, meskipun saat itu terdapat sekolah patung yang bercorak sosial realis pengaruh Soviet di awal dekade rezim komunis, dan pada pergantian abad, para pengrajin Tiongkok mulai mendominasi genre karya patung komersial (patung figur miniatur, mainan dsb) dan seniman garda depan Tiongkok mulai berpartisipasi dalam seni kontemporer Eropa Amerika.
Di Jepang, karya patung dan lukisan yang tak terhitung banyaknya, seringkali di bawah sponsor pemerintah. Kebanyakan patung di Jepang dikaitkan dengan agama, dan seiring dengan berkurangnya peran tradisi Buddhisme, jenis penggunaan bahannya juga berkurang. Selama periode Kofun (abad ketiga), patung tanah liat yang disebut haniwa didirikan di luar makam. Di dalam Kondo yang berada di Horyu-ji terdapat Trinitas Shaka (623), patung Buddha yang berupa dua bodhisattva serta patung yang disebut dengan Para Raja Pengawal Empat Arah. Patung kayu (abad 9) mengambarkan Shakyamuni, salah satu bentuk Buddha, yang menghiasi bangunan sekunder di Muro-ji, adalah ciri khas dari patung awal periode Heian, dengan tubuh berat, dibalut lipatan draperi tebal yang dipahat dengan gaya hompa-shiki (ombak bergulung), serta ekspresi wajah yang terkesan serius dan menarik diri. Sekolah seni patung Kei, menciptakan gaya patung baru dan lebih realistik.
6. Seni Patung di Eropa
- Romawi Yunani Klasik
Seni patung klasik Eropa merujuk pada seni patung dari zaman Yunani Kuno, Romawi kuno serta peradaban Helenisasi dan Romanisasi atau pengaruh mereka dari sekitar tahun 500 SM sampai dengan kejatuhan Roma pada tahun 476 AD, istilah patung klasik juga dipakai untuk patung modern yang dibuat dengan gaya klasik. Patung-patung klasik Eropa memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
Figur badan penuh: berupa laki-laki muda atletis atau wanita telanjang.
Portrait: menunjukkan tanda-tanda usia atau karakter yang kuat.
Memakai kostum serta atribut dewa-dewi klasik
Peduli dengan naturalisme didasari dengan observasi, seringkali memakai model sungguhan.
Bentuk patung telanjang biasanya diterima secara luas oleh masyarakat, didasari pada lamanya tradisi yang mendukungnya. Tapi adakalanya, ada yang berkeberatan dengan tema ketelanjangan ini, biasanya dari kalangan fundamentalis moral dan relijius. Contohnya, beberapa patung Yunani koleksi Vatikan dihilangkan penisnya.
Periode Gothik
Mata rantai yang menghubungkan seni, dalam hal ini adalah arsitektur, Eropa zaman pertengahan (Gothik) dengan seni arsitektur Romawi disebut dengan periode Romanesque. Karya dgseni patung Gothik awal adalah dari pengaruh agama Kristen, serta lahir dari dinding gereja dan biara. Patung yang terdapat di Chartres Cathedral (sekitar th. 1145) di Perancis merupakan karya patung awal zaman Gothik. Di Jerman, terdapat di Cathedral Bamberg dari tahun 1225. Di Inggris, karya patung hanya terbatas pada yang dipakai pada batu nisan serta dekorasi non figur (sebagian ini disebabkan karena ikonoklasme Cistercian). Di Italia, masih dipengaruh bentuk-bentuk zaman klasik, seperti yang terdapat pada mimbar Baptistery di Pisa serta di Siena.
Renaisans
Pada zaman renaisans, seni patung juga turut dihidupkan kembali, bahkan dalam beberapa kasus lebih dulu dibandingkan dengan karya seni lain. Salah satu tokoh penting dalam masa ini adalah Donatello, dengan karya patung perunggunya, David (jangan keliru dengan David-nya Michelangelo). Ini merupakan karya patung awal zaman Renaisans. Demikian juga dengan Michelangelo yang selain membuat patung David, juga membuat Pietà. Patung David dari Michelangelo merupakan satu contoh gaya kontraposto dalam menggambarkan figur manusia. Masih ada beberapa periode dari zaman renaisans ke modernisme yang dipengaruhi oleh perubahan politik, gerakan kebudayaan atau hal lain, yaitu periode mannerisme, baroque dan neo klasik.
Modernisme
Auguste Rodin merupakan salah satu pematung Eropa terkenal dari awal abad 20. Ia seringkali disebut sebagai seniman patung Impresionis. Seni patung modern klasik kurang berminat pada naturalisme, detail anatomi atau kostum dan lebih tertarik pada stilisasi bentuk, demikian juga pada irama volume dan ruang. Seiring dengan perkembangan waktu, gaya seni patung modern klasik kemudian diadopsi oleh dua penguasa totalitarian Eropa: Nazi Jerman dan Uni Soviet. Sementara di kawasan Eropa lain, gaya ini berubah menjadi bersifat dekoratif/art deco (Paul Manship, Carl Milles), stilisasi abstrak (Henry Moore, Alberto Giacometti) atau lebih ekspresif. Gerakan modernis dalam karya seni patung menghasilkan karya Kubisme, Futurisme, Minimalisme, Instalasi dan Pop art.
Seni patung kontemporer
Di zaman sekarang dimana seni kontemporer mulai berkembang pesat, patung bisa menjadi semacam 'seni pertunjukan'. Misalnya di beberapa tempat seperti Tiongkok, Jepang, Kanada, Swedia dan Rusia diadakan festival patung es yang diselenggarakan secara berkala. Istilah patung kinetik dipakai untuk patung yang dirancang untuk bisa bergerak. Beberapa seniman yang membuat karya patung kinetik adalah: Marcel Duchamp, Alexander Calder, George Rickey dan Andy Warhol.By Gregorius Michael Setiabudi.
Figur badan penuh: berupa laki-laki muda atletis atau wanita telanjang.
Portrait: menunjukkan tanda-tanda usia atau karakter yang kuat.
Memakai kostum serta atribut dewa-dewi klasik
Peduli dengan naturalisme didasari dengan observasi, seringkali memakai model sungguhan.
Bentuk patung telanjang biasanya diterima secara luas oleh masyarakat, didasari pada lamanya tradisi yang mendukungnya. Tapi adakalanya, ada yang berkeberatan dengan tema ketelanjangan ini, biasanya dari kalangan fundamentalis moral dan relijius. Contohnya, beberapa patung Yunani koleksi Vatikan dihilangkan penisnya.
Periode Gothik
Mata rantai yang menghubungkan seni, dalam hal ini adalah arsitektur, Eropa zaman pertengahan (Gothik) dengan seni arsitektur Romawi disebut dengan periode Romanesque. Karya dgseni patung Gothik awal adalah dari pengaruh agama Kristen, serta lahir dari dinding gereja dan biara. Patung yang terdapat di Chartres Cathedral (sekitar th. 1145) di Perancis merupakan karya patung awal zaman Gothik. Di Jerman, terdapat di Cathedral Bamberg dari tahun 1225. Di Inggris, karya patung hanya terbatas pada yang dipakai pada batu nisan serta dekorasi non figur (sebagian ini disebabkan karena ikonoklasme Cistercian). Di Italia, masih dipengaruh bentuk-bentuk zaman klasik, seperti yang terdapat pada mimbar Baptistery di Pisa serta di Siena.
Renaisans
Pada zaman renaisans, seni patung juga turut dihidupkan kembali, bahkan dalam beberapa kasus lebih dulu dibandingkan dengan karya seni lain. Salah satu tokoh penting dalam masa ini adalah Donatello, dengan karya patung perunggunya, David (jangan keliru dengan David-nya Michelangelo). Ini merupakan karya patung awal zaman Renaisans. Demikian juga dengan Michelangelo yang selain membuat patung David, juga membuat Pietà. Patung David dari Michelangelo merupakan satu contoh gaya kontraposto dalam menggambarkan figur manusia. Masih ada beberapa periode dari zaman renaisans ke modernisme yang dipengaruhi oleh perubahan politik, gerakan kebudayaan atau hal lain, yaitu periode mannerisme, baroque dan neo klasik.
Modernisme
Auguste Rodin merupakan salah satu pematung Eropa terkenal dari awal abad 20. Ia seringkali disebut sebagai seniman patung Impresionis. Seni patung modern klasik kurang berminat pada naturalisme, detail anatomi atau kostum dan lebih tertarik pada stilisasi bentuk, demikian juga pada irama volume dan ruang. Seiring dengan perkembangan waktu, gaya seni patung modern klasik kemudian diadopsi oleh dua penguasa totalitarian Eropa: Nazi Jerman dan Uni Soviet. Sementara di kawasan Eropa lain, gaya ini berubah menjadi bersifat dekoratif/art deco (Paul Manship, Carl Milles), stilisasi abstrak (Henry Moore, Alberto Giacometti) atau lebih ekspresif. Gerakan modernis dalam karya seni patung menghasilkan karya Kubisme, Futurisme, Minimalisme, Instalasi dan Pop art.
Seni patung kontemporer
Di zaman sekarang dimana seni kontemporer mulai berkembang pesat, patung bisa menjadi semacam 'seni pertunjukan'. Misalnya di beberapa tempat seperti Tiongkok, Jepang, Kanada, Swedia dan Rusia diadakan festival patung es yang diselenggarakan secara berkala. Istilah patung kinetik dipakai untuk patung yang dirancang untuk bisa bergerak. Beberapa seniman yang membuat karya patung kinetik adalah: Marcel Duchamp, Alexander Calder, George Rickey dan Andy Warhol.By Gregorius Michael Setiabudi.
7. Seni Patung di Indonesia
Seni patung di Indonesia adalah seni yang diciptakan dengan fungsinya sendiri - sendiri. contohnya di Bali patung digunakan untuk bersembahyang berbeda dengan daerah lain. Seni patung juga banyak digunakan sebagai monumen yang mengabadikan peristiwa penting atau menghormati tokoh, terutama pejuang kemerdekaan. Kelahiran Seni patung modern Indonesia diawali oleh para seniman (antara lain Hendra Gunawan, Trubus, Edhi Soenarso, dll) yang membuat karya-karya patung pahatan dari batu vulkanik di Yogyakarta, pada tahun 50-an. Berbagai patung figuratif itu sebagian masih ada di halaman gedung DPRD D.I Yogyakarta. Seni patung modern baru dikembangkan dan dipelajari secara akademik setelah adanya Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Yogyakarta.
8. Kegunaan Patung
Kegunaan patung itu sendiri bisa dikabarkan dalam banyak bentuk fungsional dan artistik. Dalam kaitan fungsional, patung bisa menjadi alat peraga atau landmark, yang mewakili, menggambarkan, dan mengingatkan kejadian di masa lampau. Patung patung kreasi kecil pun di buat bisa menggambarkan bentuk diorama yang menjelaskan sejarah. Indonesia sendiri merupakan negeri ribuan patung, karena mewakili akar kultural bangsa ini yang memang memiliki nenek moyang ahli patung dan mampu membuat karya seni patung yang hebat.
Walau terkadang patung bisa disalah pahami sebagai benda sesembahan, hal itu sebenarnya keliru, karena imajinasi artistik lebih kuat dibandingkan imajinasi akan deity. Bentuk awal mengapa orang memuja patung, karena mencoba melakukan materialisasi akan keberadaan Tuhan atau dewa itu sendiri, kebiasaan itu mulai ditinggalkan, orang beragama manapun yang dahulu leluhurnya menggunakan medium patung, kali ini lebih mengandalkan kepada ajaran ajaran luhur keagamaannya, dibandingkan ritus tata cara atau meidumnya. Dus pada akhirnya patung memang dibutuhkan sebagai simbol simbol kemanusiaan, dan sesuatu yang lebih fungsional lagi
Walau terkadang patung bisa disalah pahami sebagai benda sesembahan, hal itu sebenarnya keliru, karena imajinasi artistik lebih kuat dibandingkan imajinasi akan deity. Bentuk awal mengapa orang memuja patung, karena mencoba melakukan materialisasi akan keberadaan Tuhan atau dewa itu sendiri, kebiasaan itu mulai ditinggalkan, orang beragama manapun yang dahulu leluhurnya menggunakan medium patung, kali ini lebih mengandalkan kepada ajaran ajaran luhur keagamaannya, dibandingkan ritus tata cara atau meidumnya. Dus pada akhirnya patung memang dibutuhkan sebagai simbol simbol kemanusiaan, dan sesuatu yang lebih fungsional lagi
9. Tujuan Patung
Pada zaman pemerintahan orde lama dan orde baru, pembuatan patung begitu semarak. Di Jakarta saja, mungkin ada ratusan patung berukuran kecil, sedang, dan besar. Patung-patung tersebut dibuat dengan tujuan tertentu dan sebagai monumen peringatan. Ada patung selamat datang, patung pak tani, patung para pahlawan, dan patung-patung yang diletakkan di gerbang-gerbang perumahan serta di taman-taman sebagai penghias. Patung-patung juga dibuat di tengah lingkaran sebagai penanda sebuah perumahan seperti yang ada kompleks perumahan Citra Raya, Tangerang. Patung juga ada yang dibuat sebagai ҰenjagaҠseperti yang bisa dilihat di gedung-gedung dan di rumah-rumah. Patung-patung tersebut bisa berupa patung Ganesha (patung gajah) atau patung-patung yang terinspirasi dari cerita pewayangan dan Ramayana.Pematung adalah seorang seniman visual yang biasanya bekerja sendiri. Dia dapat bekerja di patung paruh waktu dan memiliki paruh waktu atau penuh waktu pekerjaan di bidang lain karir untuk membayar tagihan rutin. Pendapatan Freelance seniman 'sering tidak stabil. Sebuah pematung dengan mandat mengajar dapat mengajar kelas mematung di sebuah sekolah seni. Pematung membuat patung asli di sebuah studio rumah atau di ruang komersial menyewa seperti di sebuah gudang diubah menjadi studio seniman.
Mengembangkan ide-ide untuk patung tiga dimensi (3-D) atau patung-patung dan mengikuti mereka melalui dalam karya seni selesai adalah tugas utama dari seorang pemahat. Pematung dapat bekerja dalam satu atau lebih media yang dapat mencakup kertas, batu, logam, es atau kayu. Teknik mematung dan ukuran potongan pahatan bervariasi antara seniman. Misalnya, salah satu jenis pematung mungkin mengkhususkan diri dalam kecil patung kayu berukir, sementara yang lain mungkin membuat besar 3-D mural yang terbuat dari kertas digulung atau dilipat.
Seorang pematung kontemporer harus menghabiskan waktu mempromosikan bakat artistik nya dan jasa. Untuk menjadi terkenal, seniman perlu mendapatkan kedua nama mereka dan berolahraga di masyarakat, seperti melalui artikel dan foto-foto di koran lokal dan negara. Pematung harus membangun sebuah portofolio yang menunjukkan gambar potongan artistik mereka. Mereka mungkin memiliki sebuah situs web yang menampilkan galeri patung mereka dan biasanya mencoba untuk mendapatkan pekerjaan mereka ditampilkan dalam galeri artis lokal atau museum.
Seorang pematung kontemporer harus menghabiskan waktu mempromosikan bakat artistik nya dan jasa. Untuk menjadi terkenal, seniman perlu mendapatkan kedua nama mereka dan berolahraga di masyarakat, seperti melalui artikel dan foto-foto di koran lokal dan negara. Pematung harus membangun sebuah portofolio yang menunjukkan gambar potongan artistik mereka. Mereka mungkin memiliki sebuah situs web yang menampilkan galeri patung mereka dan biasanya mencoba untuk mendapatkan pekerjaan mereka ditampilkan dalam galeri artis lokal atau museum.
10. Macam-macam patung di dunia
- Makan biskuit bersama
Terletak di Seoul, Korea, di depan Museum Bukcheon. Seniman Pematungnya adalah Bom Ju Ku. Lokasi: Seoul, Korea
- Upside Down
Ini mungkin terlihat aneh untuk melihat patung normal manusia, tapi kemudian dipasang terbalik. Namun, ada makna di balik itu. Patung ini terletak di Melbourne, Australia dan merupakan patung Charles La Trobe, dipasang terbalik untuk mewakili berartinya seorang tokoh masyarakat.
- Peekabo!
Bayangkan jika kamu jalan-jalan di Rusia dan melihat pemandangan ketika tiba-tiba Kamu merasa seolah-olah Kamu sedang diawasi.Itu mungkin saja karena patung ini memeriksa tempat itu juga hehehe.
- Sapi Meleleh
Rupanya ada semacam parade patung sapi di Budapest dan ini adalah salah satu kontributor untuk perayaan. Bagian yang menarik dari patung ini tidak hanya menggambarkan wajah sapi turun dengan kepala meleleh, tapi juga dengan stick es loli yang berada diujung belakangnya.
- Bull and bunny buddies
Seperti yang Kamu lihat, patung ini menggambarkan kelinci telanjang dan banteng telanjang berkencan, bisa dilihat dari lengan banteng yang ada di samping perut kelinci. Kamu mungkin berpikir bahwa patung-patung tersebut secara anatomi benar, sampai Kamu melihat lubang di perutnya. Kelinci dan banteng tidak memiliki pusar!
- Rhino hanging around
Badak yang terlihat sedih ini berada di Postdam, Jerman. Bayangkan jika Kamu digantung seperti itu dan dipajang, pasti kamu akan merasakan hal yang sama dengan patung badak tersebut.
11. Lima pahatan patung paling terkenal di dunia
5. Lady JusticePatung ini merupakan salah satu bentuk patung paling terkenal di dunia. Patung ini tidak diatributkan pada satu seniman pembuatnya, karna patung-patung seperti ini banyak dijumpai di gedung-gedung pengadilan. Patung ini memiliki banyak nama, di antaranya adalah "Scales of Justice", "Blind Justice", tapi lebih dikenal dengan nama "Lady Justice". Dahulu pada zaman Romawi dan Yunani kuno, patung ini dibuat sebagai gambaran Dewi Keadilan dan Hukum.
4. Pieta
Dibuat oleh seniman Michelangelo (1475-1564), Patung ini menggambarkan Bunda Maria sedang memangku putranya, Yesus. Sebelum patung ini dibuat, Michelangelo adalah seniman yang tidak terkenal, hingga pada saat umurnya baru menginjak 20 tahun, dia disuruh membuat patung Pieta ini. Dalam 2 tahun, dengan menggunakan lempengan marmer, akhirnya patung indah inipun selesai dibuatnya.
3. The Thinker
Pembuat patung "The Thinker" ini bernama Auguste Rodin. Sebelumnya nama asli patung ini adalah "The Poet", yang menggambarkan seorang pria telanjang yang duduk merenungkan puisinya.
2. Venus de Milo
2. Venus de Milo
Patung ini dibuat sekitar 100 dan 130 BC. Patung ini dipercaya menggambarkan Aphrodite (Venus untuk versi Romawi), Dewi cinta dan kecantikan dari Yunani. Sebelum patung ini ditempatkan di museum Louvre di Paris, dulu patung ini secara tidak sengaja ditemukan di ladang seorang petani.
1. David
"David" adalah patung mahakarya dari zaman Renaissance yang dibuat antara tahun 1501 dan 1504, oleh seniman Michelangelo. Patung pria yang menggambarkan Daud ini memiliki tinggi 5,17 meter. Patung ini dipindahkan ke Gallery Akademi di Florence pada tahun 1873, dan kemudian menggantinya dengan patung replika ke lokasi patung itu ditemukan.
12. Pematung Indonesia
13. Interpretasi Karya Seni Patung Modern (beberapa karya Pematung Indonesia)
Ø Rita Widagdo
Rita widagdo adalah seorang seniman yang tetap konsisten bertahan pada jalur abstrak, atau tepatnya lagi ‘abstrak murni’. Sejak awal sampai sekarang boleh dikatakan karya-karya Rita Widagdo tidak pernah sedikitpun menampilkan bentuk yang umum dikenal seperti bentuk-bentuk yang ada di alam. Ia mengolah elemen-elemen rupa tri-matra seperti; garis, bidang, ruang, dan memperlakukan unsur-unsur rupa tersebut sebagaimana adanya – tidak mewakili konsep atau pengertian tertentu. Semua karyanya digarap dengan sangat ‘perfect’ dan tampil ‘elegant’. Ia berkarya dengan memilih bentuk persegi empat, bulatan, atau silinder, maupun bentuk geometrik lainnya yang tidak merujuk pada tiruan bentuk alam. Apa yang ditampilkan / visualisasikan Rita adalah ‘nilai-nilai’ yang seakan-akan adalah sesuatu yang dianggap dapat mengikat suatu komuniti tertentu. melalui ungkapan yang bermakna objektif.
Karya-karya pada masa awal sekitar tahun 1970 seperti; “Line and Form” (1970), “The Open Self” (1972), “Roundness” (1978), menampakkan kecenderungan pada permainan bidang dengan susunan bidang setara. Pada masa itu ia sudah menghasilkan karya relief dengan menggarap kemungkinan bidang yang ‘seolah datar’ namun muncul dalam dimensi dan ruang yang nyata – bukan lagi ilusi seperti karya dwi-matra. Dalam hal pewarnaan, Rita selalu memilih warna yang cenderung senada yang bersifat qualisign, dan itu tampak mencolok pada “From Two Dimensional to Three Dimensional” yang dibuat dengan bahan baja tahan karat.
Kekuatan garis merupakan ciri khas karya Rita Widagdo. Semua karyanya tidak terlepas dari garapan garis, lipatan dan gerak. Ia memunculkan kesan gerak dengan cara malakukan repetisi / pengulangan bentuk garis, lipatan, atau juga perbedaan cekung-cembung permukaan bidang karya dalam jumlah tertentu sehingga menghasilkan ‘sesuatu’ yang unik/sin sign. Ia menciptakan garis melalui bahan yang digunakan, seperti kawat atau batang tembaga, kuningan, dan juga stainles steel, yang ditempel dengan teknik solder, maupun garis yang terjadi akibat dari pertemuan antar bidang, seperti pada relief “Pressing to the Surface” (1994), atau pada karya patungnya; “JeanneD’arc” (1999), “Family IV” (2004), dan termasuk karya-karya patung publik yang dihasilkannya.
Ø G.Sidharta
G.Sidharta adalah pematung modern yang dikenal memberontak pada paham modern dengan mewarnai karya-karya patungnya (yang dianggap tidak setia terhadap watak bahan). Sejumlah karyanya juga mengandung cerita yang dihindari oleh umumnya para seniman modern. Kehadiran ornamen (pola-pola etnik) dan sapuan warna dalam karya patungnya ternyata tidak saja memperkaya perkembangan, tetapi juga melahirkan friksi-friksi tajam dalam wacana seni rupa. Karya-karya Sidharta menyiratkan ‘nafas tradisi’ yang sangat kuat. Perjumpaan Sidharta dengan modernisme – menimba ilmu di ASRI Yogyakarta dan Jan van Eyck Akademie voor Beeldende Kunsten Maastricht, Nederland – tak menepis seni tradisi dalam karyanya.
Sebagian besar karya Sidharta diungkapkan dengan menggunakan sistim penandaan yang bersifat qualisign dan sebagian lagi dengan memanfaatkan sistem penandaan ikonogafi. Dalam karyanya yang berjudul “Tumbuh Lima Duabelas Berkembang” (1986) Sidharta tidak lagi terikat pada media dan rumus-rumus seni yang konvensional. Ia berusaha mengungkapkan irama dalam ruang dengan gerak tegak secara legisign berbentuk tiang dan mengaitkan diri dengan jalur kehidupan tradisi, selain tetap berdiri di alam kehidupan masa kini. Tanda-tanda visual yang hadir dalam karya tersebut bersifat qualisign. Begitu juga pada karya “Lingkaran Pesan dari Timur” cenderung mengolah unsur-unsur desain, konflik dan keselarasan. Karya dengan bahan tembaga yang berukuran 120 x 120 x 120 cm itu berupa semacam gelang raksasa yang tidak bertemu ujung dan pangkalnya. Pada tubuh gelang menempel empat potongan gelang serupa yang saling silang. Susunan bentuk mengingatkan orang pada paham yin-yang, yang tanda-tandanya muncul pada ujung-ujung potongan gelang tersebut.
Disamping Sidharta memanfaatkan tanda-tanda visual secara qualisign, ia juga banyak menghadirkan sifat ikonografi atau bahkan gabungan dari kedua sifat tersebut dalam karya patungnya. Misalnya patung yang bejudul “Keseimbangan dan Orientasi” (1996) dan “Dewi Kebahagiaan III” (1999). Dalam pengolahan bentuk patung ini bersifat ikonografi, walau tidak lagi hadir dalam wujud realis. Namun dalam memanfaatkan warna tidak lagi ikonografi akan tetapi lebih bersifat qualisign.
Ø Arby Samah
Cara cipta baru dalam seni patung di Yogyakarta dari paham teori imitasi ke teori formalis dirintis oleh Arby Samah, Edhi Sunarso dan Budiyani, disamping tentu saja mendapatkan pengaruh tidak langsung dari buku Barat. Arby Samah dilahirkan 1 April 1933 di Pandai Sikek, Sumatera Barat. Ide, tema serta pengolahan bahan berkarya, diekspresikan dalam wujud-wujud simbolik. Arby selalu mengambil ide-ide berkarya dari berbagai peristiwa yang mampu menggugah hati dan pikiran yang ia temui disekelilingnya. Ia meng-interpretasi-kan suasana mental dari apa yang ia lihat secara kasat mata kedalam wujud karya yang tidak lagi bersifat realis, namun mengolah bentuk dengan cara mereduksi sejumlah elemen realis menjadi bentuk dan gerak yang lebih sederhana.
Semua karya patung Arby diwujudkan dalam bentuk abstrak figuratif dan ikonografi dari referent yang dipilih. Bentuk-bentuk yang hadir diolah dari gerak atau sifat dasar dari bentuk figur yang ingin diungkapkan. Sebagai contoh karya yang berjudul “Sujud” (1965), ide tersebut sudah ada sebelum karya diciptakan. Tanda visual yang hadir memvisualisasikan ide, maksud dan juga pesan yang diinginkan Arby dan olahan bentuk dibuat secara simbolik dengan arah horizontal namun secara ikonografis masih dapat ditangkap bentuk gerakan seseorang yang sedang melakukan gerakan bersujud.
Ciri khas dari karya Arby berbentuk pipih dan dari bahan kayu. Jika patung secara logika harus bisa dinikmati dari segala arah pandang, namun semua karya patung Arby cenderung hanya bisa dinikmati dari dua arah saja yaitu muka-belakang. Namun hal itu bukan berarti karya Arby ‘tidak bagus’ karena pada dasarnya dalam seni modern yang diutamakan adalah masalah inovasi dan kebaruan. Dalam hal ini Arby telah melakukan hal tersebut karena dengan cara mengolah bentuk yang demikian justru belum ada atau bahkan mungkin tidak pernah dilakukan oleh pematung lain.
Ø Nyoman Nuarta
seperti kebanyakan seniman Bali, Nyoman Nuarta adalah seorang seniman kontemporer yang tidak pernah melepaskan bingkai kesenian dalam tradisi Bali. Meskipun ia seniman yang mendapat pendidikan Barat, persepsinya tentang seni rupa sangat diwarnai prinsip-prinsip kesenian Bali. Karya-karya Nuarta adalah karya-karya kontemporer, namun idiom dan makna karyanya tidak bisa dipahami tanpa mengkaji perkembangan seni rupa Bali.
Berbeda dengan seni rupa Bali pada umumnya, karya-karya Nuarta menunjukan gejala-gejala pembaharuan. Ia berupaya meninggalkan persepsi seni rupa Bali yang telah menjadi umum, dan dengan sangat kritis mengolah bentuk patung-patung Bali dengan cara memperlihatkan distorsi menyerupai patung-patung primitif. Keterkaitan Nuarta pada perkembangan seni rupa Bali ini membuat hubungan karya-karyanya dengan perkembangan seni rupa yang dipengaruhi tradisi modern menjadi tidak mutlak.
Rita widagdo adalah seorang seniman yang tetap konsisten bertahan pada jalur abstrak, atau tepatnya lagi ‘abstrak murni’. Sejak awal sampai sekarang boleh dikatakan karya-karya Rita Widagdo tidak pernah sedikitpun menampilkan bentuk yang umum dikenal seperti bentuk-bentuk yang ada di alam. Ia mengolah elemen-elemen rupa tri-matra seperti; garis, bidang, ruang, dan memperlakukan unsur-unsur rupa tersebut sebagaimana adanya – tidak mewakili konsep atau pengertian tertentu. Semua karyanya digarap dengan sangat ‘perfect’ dan tampil ‘elegant’. Ia berkarya dengan memilih bentuk persegi empat, bulatan, atau silinder, maupun bentuk geometrik lainnya yang tidak merujuk pada tiruan bentuk alam. Apa yang ditampilkan / visualisasikan Rita adalah ‘nilai-nilai’ yang seakan-akan adalah sesuatu yang dianggap dapat mengikat suatu komuniti tertentu. melalui ungkapan yang bermakna objektif.
Karya-karya pada masa awal sekitar tahun 1970 seperti; “Line and Form” (1970), “The Open Self” (1972), “Roundness” (1978), menampakkan kecenderungan pada permainan bidang dengan susunan bidang setara. Pada masa itu ia sudah menghasilkan karya relief dengan menggarap kemungkinan bidang yang ‘seolah datar’ namun muncul dalam dimensi dan ruang yang nyata – bukan lagi ilusi seperti karya dwi-matra. Dalam hal pewarnaan, Rita selalu memilih warna yang cenderung senada yang bersifat qualisign, dan itu tampak mencolok pada “From Two Dimensional to Three Dimensional” yang dibuat dengan bahan baja tahan karat.
Kekuatan garis merupakan ciri khas karya Rita Widagdo. Semua karyanya tidak terlepas dari garapan garis, lipatan dan gerak. Ia memunculkan kesan gerak dengan cara malakukan repetisi / pengulangan bentuk garis, lipatan, atau juga perbedaan cekung-cembung permukaan bidang karya dalam jumlah tertentu sehingga menghasilkan ‘sesuatu’ yang unik/sin sign. Ia menciptakan garis melalui bahan yang digunakan, seperti kawat atau batang tembaga, kuningan, dan juga stainles steel, yang ditempel dengan teknik solder, maupun garis yang terjadi akibat dari pertemuan antar bidang, seperti pada relief “Pressing to the Surface” (1994), atau pada karya patungnya; “JeanneD’arc” (1999), “Family IV” (2004), dan termasuk karya-karya patung publik yang dihasilkannya.
Ø G.Sidharta
G.Sidharta adalah pematung modern yang dikenal memberontak pada paham modern dengan mewarnai karya-karya patungnya (yang dianggap tidak setia terhadap watak bahan). Sejumlah karyanya juga mengandung cerita yang dihindari oleh umumnya para seniman modern. Kehadiran ornamen (pola-pola etnik) dan sapuan warna dalam karya patungnya ternyata tidak saja memperkaya perkembangan, tetapi juga melahirkan friksi-friksi tajam dalam wacana seni rupa. Karya-karya Sidharta menyiratkan ‘nafas tradisi’ yang sangat kuat. Perjumpaan Sidharta dengan modernisme – menimba ilmu di ASRI Yogyakarta dan Jan van Eyck Akademie voor Beeldende Kunsten Maastricht, Nederland – tak menepis seni tradisi dalam karyanya.
Sebagian besar karya Sidharta diungkapkan dengan menggunakan sistim penandaan yang bersifat qualisign dan sebagian lagi dengan memanfaatkan sistem penandaan ikonogafi. Dalam karyanya yang berjudul “Tumbuh Lima Duabelas Berkembang” (1986) Sidharta tidak lagi terikat pada media dan rumus-rumus seni yang konvensional. Ia berusaha mengungkapkan irama dalam ruang dengan gerak tegak secara legisign berbentuk tiang dan mengaitkan diri dengan jalur kehidupan tradisi, selain tetap berdiri di alam kehidupan masa kini. Tanda-tanda visual yang hadir dalam karya tersebut bersifat qualisign. Begitu juga pada karya “Lingkaran Pesan dari Timur” cenderung mengolah unsur-unsur desain, konflik dan keselarasan. Karya dengan bahan tembaga yang berukuran 120 x 120 x 120 cm itu berupa semacam gelang raksasa yang tidak bertemu ujung dan pangkalnya. Pada tubuh gelang menempel empat potongan gelang serupa yang saling silang. Susunan bentuk mengingatkan orang pada paham yin-yang, yang tanda-tandanya muncul pada ujung-ujung potongan gelang tersebut.
Disamping Sidharta memanfaatkan tanda-tanda visual secara qualisign, ia juga banyak menghadirkan sifat ikonografi atau bahkan gabungan dari kedua sifat tersebut dalam karya patungnya. Misalnya patung yang bejudul “Keseimbangan dan Orientasi” (1996) dan “Dewi Kebahagiaan III” (1999). Dalam pengolahan bentuk patung ini bersifat ikonografi, walau tidak lagi hadir dalam wujud realis. Namun dalam memanfaatkan warna tidak lagi ikonografi akan tetapi lebih bersifat qualisign.
Ø Arby Samah
Cara cipta baru dalam seni patung di Yogyakarta dari paham teori imitasi ke teori formalis dirintis oleh Arby Samah, Edhi Sunarso dan Budiyani, disamping tentu saja mendapatkan pengaruh tidak langsung dari buku Barat. Arby Samah dilahirkan 1 April 1933 di Pandai Sikek, Sumatera Barat. Ide, tema serta pengolahan bahan berkarya, diekspresikan dalam wujud-wujud simbolik. Arby selalu mengambil ide-ide berkarya dari berbagai peristiwa yang mampu menggugah hati dan pikiran yang ia temui disekelilingnya. Ia meng-interpretasi-kan suasana mental dari apa yang ia lihat secara kasat mata kedalam wujud karya yang tidak lagi bersifat realis, namun mengolah bentuk dengan cara mereduksi sejumlah elemen realis menjadi bentuk dan gerak yang lebih sederhana.
Semua karya patung Arby diwujudkan dalam bentuk abstrak figuratif dan ikonografi dari referent yang dipilih. Bentuk-bentuk yang hadir diolah dari gerak atau sifat dasar dari bentuk figur yang ingin diungkapkan. Sebagai contoh karya yang berjudul “Sujud” (1965), ide tersebut sudah ada sebelum karya diciptakan. Tanda visual yang hadir memvisualisasikan ide, maksud dan juga pesan yang diinginkan Arby dan olahan bentuk dibuat secara simbolik dengan arah horizontal namun secara ikonografis masih dapat ditangkap bentuk gerakan seseorang yang sedang melakukan gerakan bersujud.
Ciri khas dari karya Arby berbentuk pipih dan dari bahan kayu. Jika patung secara logika harus bisa dinikmati dari segala arah pandang, namun semua karya patung Arby cenderung hanya bisa dinikmati dari dua arah saja yaitu muka-belakang. Namun hal itu bukan berarti karya Arby ‘tidak bagus’ karena pada dasarnya dalam seni modern yang diutamakan adalah masalah inovasi dan kebaruan. Dalam hal ini Arby telah melakukan hal tersebut karena dengan cara mengolah bentuk yang demikian justru belum ada atau bahkan mungkin tidak pernah dilakukan oleh pematung lain.
Ø Nyoman Nuarta
seperti kebanyakan seniman Bali, Nyoman Nuarta adalah seorang seniman kontemporer yang tidak pernah melepaskan bingkai kesenian dalam tradisi Bali. Meskipun ia seniman yang mendapat pendidikan Barat, persepsinya tentang seni rupa sangat diwarnai prinsip-prinsip kesenian Bali. Karya-karya Nuarta adalah karya-karya kontemporer, namun idiom dan makna karyanya tidak bisa dipahami tanpa mengkaji perkembangan seni rupa Bali.
Berbeda dengan seni rupa Bali pada umumnya, karya-karya Nuarta menunjukan gejala-gejala pembaharuan. Ia berupaya meninggalkan persepsi seni rupa Bali yang telah menjadi umum, dan dengan sangat kritis mengolah bentuk patung-patung Bali dengan cara memperlihatkan distorsi menyerupai patung-patung primitif. Keterkaitan Nuarta pada perkembangan seni rupa Bali ini membuat hubungan karya-karyanya dengan perkembangan seni rupa yang dipengaruhi tradisi modern menjadi tidak mutlak.

















